Smiley

11:11:00 AM
0
Seberapa luas bumi ini dibandingkan dengan alam semesta, mungkin sekedar debu. Sehingga para ilmuwan menolak mentah konsep ketuhanan. "Bagaimana mungkin, debu seperti kita beruntung di tengah-tengah alam yang Maha Luas." Mereka lupa, apa yang menyebabkan kita tetap menjadi ada di dalam keluasan alam. Untuk apa debu sekecil kita mempunyai anugerah hidup di bumi.

Tuhan Manusia
#Beemoslem thecrowdvoice.com
Tangan-tangan Tuhan ada di bumi, dalam titisan-titisanNya. Demikian sebuah konsep teologi yang menguasai sebagian dunia saat ini. Menitis kepada rabi-rabi, santa-santa, dan berjalan di pasar-pasar. Makan apa saja yang bisa dimakan manusia. Bekerja, tidur, dan berlari ketakutan. Tuhan, yang disadari manusia sebagai Dzat Yang Maha Kuasa itu tiba-tiba terdegradasi.

"Hanya bagian kecil dari Tuhan saja," disamping keluasan Kerajaan Langit. Sebagian berargumen untuk menahbiskan Tuhan yang dapat dimasukkan dalam sebuah gambar. Mengapa demikian rumit meletakkan hal yang kecil dari Tuhan ke bumi yang setitik debu langit? Dan apakah yang terpisah dari Tuhan masih disebut Tuhan? Apakah ciptaan itu?

Manusia melihat apa yang dilihat, oleh teleskop-teleskop raksasa super canggih. Tetapi tidak pernah menemukan Tuhan. Atau sekedar menemukan tepi-tepi dari bangunan langit. Apakah yang menjadi tempat langit berada? Mengambangkah dia? Atau tergeletak di lantai istana kerajaan Tuhan. Jikalah Tuhan berada di dalam istana, sungguh menggelikan ketika membayangkan seorang Tuhan membangun rumah.


Allah yang bersemayam di dalam 'Arsy, tersembunyi dalam rahasia yang hanya dapat diterangkan dengan kata-kata. Sebagai pembanding terhadap singgasana Allah yang mengatasi tujuh langit. Berita yang hanya kita ketahui dari FirmanNya. Dan Satu kursi tersebut diciptakan sebagai pembanding bagi raja-raja yang sombong dengan tahtanya di dunia.

Semua yang telah lepas dari sisiNya memang tidak dapat disebut Makhluk, kecuali telah sampai berita dari FirmanNya. Setiap makhluk yang diciptakan, tersebar dalam pembanding-pembanding yang tidak perlu disejajarkan dengan keagungan penciptaNya. Sehingga kita tidak tahu batas kekuasaanNya, dengan demikian Dia menjadi Ilah.

Keliru, jika menyempal sedikit entitasNya menjadi manusia. Debu kecil semesta yang tepinya telah diketahui oleh penciptaNya. Titisan adalah karena seseorang manusia, ketika sifat Tuhan tersembunyi dalam kealpaan indera yang terbatas, teknologi yang tetap primitif di mata Allah. #Beemoslem, berserah kepada beritaNya. SekehendakNya menerangkan tentang diriNya.

0 Komentar:

Posting Komentar